Dear Neptunus
Dear Neptunus,
apa kabar ?
sungguh hari ini ingin bercerita banyak kepadamu. tapi, tak ada pantai di sekeliling sini. Dan perahu, yang sudah tercoret berbagai kata hanya tetahan di dekat meja. Menanti hujan datang, agar bisa berlayar ke pantai.
Dear Neptunus,
jika kau bertanya sampai kapan, tak akan pernah ada jawaban. Karna hujan akan datang tiba-tiba, karna matahari juga akan bersinar tanpa permisi. Dan, aku hanya mampu menuliskannya. semua sesak dan semua kemungkinan serta semua pemakluman. Kau tahu kan, Neptunus, kata selalu bisa mewaliki rasa.
Neptunus,
lembaran kertas putih itu kini kian menumpuk. Saat hujan taklagi datang, saat kata terasa ingin dibuang seketika. jemputlah, perahu-perahu kertas itu, Neptunus, perahu kertas kata ku yang selalu aku kirimkan padamu kala aku merindu. Ah, ya, aku lupa, kamu selalu bilang untuk menulis dahulu, baru membiarkan perahuku berlayar.
Ah, ya, mungkin aku akan menua dan lupa. mungkin itu sebabnya kamu memintaku untuk selalu menuliskannya. Agar aku masih mampu bercerita nantinya, jika usiaku sudah tak lagi muda. Agar mampu tertawa saat teringat kisah indah di waktu yang telah lama. Ya, Neptunus, aku mengerti, semua kenangan, episode cinta, harmoni jingga, luka, ceria, tawa, aku hanya perlu mencatatkannya.
neptunus, kamu tahu, ini seperti cerita Fahd Djibran dalam bukunya "A Cat In My Eyes"
bisa aku tuliskan di perahu kertas selanjutkan kan, Neptunus ? Untuk sebuah kenangan yang kelak akan kita buka kembali pada episode masa depan kehidupan kita yang jauh. Aku hanya menuliskannya. [hal73, Februari Mencatat Kenangan]
